Mari Renungkan
Usia 30, peringatan itu bertambah keras. Usia 40 lebih keras lagi. Puncaknya adalah 60 tahun. Saudaraku, Tak seorangpun tahu bagaimana dan kapan tempo hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tidak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal shalih sebagai tabungan di hari akhir. Seorang Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, sahabat dekat Rasulullah saw pun pernah menangis saat menderita suatu penyakit, di detik-detik akhir hayatnya. “Aku menangis karena aku justru menderita sakit, pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat.” Karena itu Umar bin Khattab radiallahu anhu mengatakan, “Hasibu anfusakum qobla antuhasabu” , berhitunglah kepada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir. “Kafaa bi syaibi wa’izan” , cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan, begitu filosofi para salafushalih untuk mengingatkan dekatnya waktu “panggilan” Allah swt. Saudaraku, Inilah dering peringatan hati...