Menikmati Asyiknya Permainan Tempo Dulu

Minggu, 19 Oktober 2008


PULUHAN siswa SDN Bedono 01 Kecamatan Sayung, Demak, terlihat riang gembira. Terik matahari yang menyengat tak terasa oleh asyiknya bermain ular-ularan, go back to door (gobak so dor), dan lainnya.

Keasyikan mereka semakin terasa, karena sejumlah peserta adalah orang asing yang sudah dewasa. Ya, sejumlah warga Jepang yang tergabung dalam Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement (OISCA) sengaja melibatkan anak-anak dalam program mereka.


Selama ini OISCA melakukan program penghijauan pantai. Bukan hanya itu, mereka juga membantu pembangunan gedung SDN Bedono I yang telah terandam air rob dan membangun Puskesmas Bedono. Setiap melakukan penghijauan pantai, LSM yang peduli lingkungan itu, senantiasa melibatkan anak-anak.

Untuk mencairkan suasana, mereka biasanya mengisi dengan permaian. Meski sebagian sudah berusia 35 tahun ke atas, mereka tak canggung bermain layaknya anak-anak.

Dalam gobak so dor misalnya, mereka berbaur dalam satu tim dengan anak-anak. ’’Tenaga anak-anak memang luar biasa, seperti tidak mengenal lelah,’’ kata Hideki Yoshinaga, penanggung jawab OISCA Indonesia sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.

Terjaga Kelestariannya

Ia sengaja mengajak anak-anak bermain dengan permainan tempo dulu agar tetap terjaga kelestariannya. ’’Ternyata anak-anak di sini masih menjaga permainan ini,’’ ungkapnya.

Menurut dia, permainan anak-anak selalu menyenangkan. Bagi mereka, kalah dan memang bukan persoalan, karena tujuan yang hendak dicapai adalah kegembiraan bersama.

Bermain bersama siswa SD dilakukan setelah mereka menyelenggarakan aksi penghijauan 2.000 batang pohon mangrove dan cemara pantai. Penanaman dilakukan dari pesisir Pantai Morosari. Sebagian pohon dibawa menggunakan perahu sopek milik OISCA. Warga masyarakat, aktivis OISCA, dan puluhan siswa SD ikut menanam mangrove.

Mereka tampak menikmati, meski beberapa kali terperosok sedalam 30 sentimeter dalam lumpur pantai. Selain penanam mangrove, juga diresmikan bangunan SD dan puskesmas oleh Ohara dari Konica Minolco Union.

Koordinator penghijauan OSICA Demak, Rahmad menuturkan, pelibatan siswa SD dilakukan untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada alam. Pemahaman lebih dini tentang pentingnya kelestarian alam akan mendorong mereka untuk tetap menjaga keseimbangan alam.

’’Setidaknya bisa belajar masa lalu, ditebanginya ribuan pohon mangrove yang telah mengikis pesisir Pantai Demak, dan menenggelamkan tambak milik warga,’’ paparnya.

Kelestarian alam memang menjadi warisan bagi generasi masa depan bangsa. Di tangan mereka, harapan terjaganya alam terwariskan.

Sumber : SUARA MERDEKA


4 komentar:

Gati Siahaya mengatakan...

Jadi teringat masa2 kecil, main benteng dan gobak sodor SETIAP sore di lapangan pasir di depan rumah, hmmm.....saat itu hiudp begitu sederhana, rindu masa2 itu, 31 tahun yang lalu, wuiiy...cepatnya waktu berlalu... *weh malahan jadi nostalgia sendiri neh...wekeke...*

elys welt mengatakan...

waktu kecil suka main gedrik :)

sahaja bermakna mengatakan...

tak akan bisa terulang, tetapi tak akan pernah lupa, ia bisa jadi sejarah dan tauladan, indah, damai, ceria, riang, jauh dari segala angkuhnya dunia, (sok puitis jadi malu rasanya...)

Riema Ziezie mengatakan...

yuk lestarikan alam, budaya bangsa dan segala hal yang baik

Posting Komentar