Seorang anak remaja terpaku diam menjalin asmara dengan terik matahari, kiprahnya hanya mencari keriput rizqi yang tiap kali datang akan ada saja yang menyerobotnya. Syukur selalu terucap manakala senja mendapuk dirinya berkemas ke rumah mengumpulkan koin penuh tanda cinta hari padanya. Sementara gelagat kemewahan menunjuk-nunjuk apa yang dia maui, tak pernah peduli dengan rasa pahit yang dialami para remaja dalam payah keriting mengasuh kejujurannya mengemban senang dengan senyum lantang sang ksatria. Tiap hajatan tiba, si Mewah memborong para remaja dengan berbagai iming-iming tanpa tahu akan dibawa kemana amanatnya. Suatu waktu para mewah bermunculan dengan muka memerah padam, bersengketa di ujung waktu, merengek sebagian agar jalan kemewahan tetap pada dirinya, sementara yang lain memilih bermewah dengan cara lain pula. Ada aksi tipu-tipu muka masam, muka sedih di depan remaja dungu yang bagi dia akan mudah dikibuli. Dalam rentang waktu yang tidak sebentar, rupanya para...
Melongok kembali gairah, terus ku raba senyum untuk menghadirkan sedikit nilai dari gabungan rasa. Otak atik gelagat tawa yang tertimbun nuansa semilirnya aliran udara, hmmm...nampak nyaman walau sebentar. Halo ku sapa, kerut siang yang tak kunjung membuncah, tapi ku paksa juga agar ia segar bersama terik surya. Ayolah kawan bergairahlah menghela laju problema yang kian hari kian menumpuk indah, seindah nikmat Tuhan bagi yang pandai bersyukur, tak usahlah tersungkur di gerigi pesimis kehidupan karena kita hanya akan menjadi bahan gunjingan yang tak sedap. Terlampau singkat hanya memberi kesan suram bagi jalan kita, karena kasih sayang yang diberikan alam pada kita adalah ajaran alamiah yang patut direnungkan. Jangan sekali-kali menyumbatnya dengan ego kita yang tak sepatutnya. Plong kan kebersihan jiwa dalam anugerah, syair para burung itu menggelembungkan bahasa dinamika yang terus sempurna dalam mengiring damai proses ini, ayo alihkan isu genting yang mengakibatkan kiamat ha...
Coba ku pikirkan, dan coba bantuku dalam berpikir mengapa setiap yang berada dikita seakan milik kita, bukannya milik Dia Yang Maha Agung, seperti sang anak bak anak panah dan para oarangtua adalah busurnya, sebagaimana lantunan indah sang legenda kata; Anakmu bukan milikmu Anakmu bukan milikmu Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu Berikan mereka kasih sayangmu, tetapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri Patut kau berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak untuk jiwanya Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan Yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam impian Kau boleh berusaha menyerupai mereka Namun jangan membuat mereka menyerupaimu Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur Pun tidak tenggelam di masa lampau Kaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang mluncur Sang pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian Dia mer...
subhanalloh
BalasHapus