Suara sebagai Nikmat
Alkisah, dalam kegersangan malam nan rajut, seraut wajah kusam meramu lamunan. Hingar Idul Fitri yang terpatri memaksa lingkup jasmaninya bergembira. Batangan harapan disapa dengan sedikit kantuk, sedikit respek, pula sedikit senyum. Tabuh malam memang belum larut, khayalnya masih tajam, melambung lepas hingga tepian cahaya angkasa. Denyut kampung yang tak ramai memberi kekhusyukan bingkai hati tanpa kalimat. Ulasannya hanya sederhana, sedikit tanya saja: "dimana kegembiraan setelah lepas Ramadhan? dimana kebahagiaan tradisi Lebaran?" Hal aneh yang hanya membuat orang semakin bingung, dirasa tak perlu seriuslah menjawab. Karena pada akhirnya ia tatap kerlip bintang itu penuh kekaguman, banyak sekali ayat-ayat Tuhan memberikan sinyal tasbihNya, termasuk gemintang yang senantiasa berikrar pada kesetiaan tasbih mereka pada Rabbnya. Hingga keindahan lamunan yang terus seru itu, berujung mauidhah seorang Ustadz: "....suara yang kita keluarkan tak akan hilang, karena...