Kepasrahan dan Bhakti Seorang Hamba
MENGENAKAN hem lengan panjang dan sarung dan peci hitam, H Supriyanto (58) tersenyum lebar. Sesekali mulutnya mengisap rokok keretek. Di sampingnya, sejumlah kerabat, tetangga, dan kolega tampak heran. Bagaimana tidak, orang yang baru saja kehilangan harta senilai Rp 3,5 miliar itu tak tampak sedikit pun galau apalagi stres. Dia bahkan dengan santai dan seksama mencermati berita di koran tentang perampokan yang menimpanya. ”Kepingin tahu. Barangkali ada yang salah atau tidak pas,” kata ayah dua anak itu sambil melempar senyum. Anak kedua dari 12 bersaudara itu mengaku mendapat kabar perampokan tersebut pertama kali dari Fajar, penjaga malam di rumahnya, RT 1 RW 1, Desa/Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara. Saat itu dia tidur di rumahnya yang lain di Desa Sikumpul, beberapa kilometer dari lokasi kejadian. ”Fajar datang sekitar pukul 03.00. Kata pertama yang dia sampaikan kepada saya, kapesan (musibah-Red),” tutur juragan emas itu menirukan Fajar yang datang tergop...