Kami Memilih......
Seorang anak remaja terpaku diam menjalin asmara dengan terik matahari, kiprahnya hanya mencari keriput rizqi yang tiap kali datang akan ada saja yang menyerobotnya. Syukur selalu terucap manakala senja mendapuk dirinya berkemas ke rumah mengumpulkan koin penuh tanda cinta hari padanya. Sementara gelagat kemewahan menunjuk-nunjuk apa yang dia maui, tak pernah peduli dengan rasa pahit yang dialami para remaja dalam payah keriting mengasuh kejujurannya mengemban senang dengan senyum lantang sang ksatria. Tiap hajatan tiba, si Mewah memborong para remaja dengan berbagai iming-iming tanpa tahu akan dibawa kemana amanatnya. Suatu waktu para mewah bermunculan dengan muka memerah padam, bersengketa di ujung waktu, merengek sebagian agar jalan kemewahan tetap pada dirinya, sementara yang lain memilih bermewah dengan cara lain pula. Ada aksi tipu-tipu muka masam, muka sedih di depan remaja dungu yang bagi dia akan mudah dikibuli. Dalam rentang waktu yang tidak sebentar, rupanya para...