Tuhan Maha Adil
Menggembalakan hati, bergumam dalam tantangan jemari kehampaan yang tadinya liar, menjadi riuh asha yang berkepanjangan Ayolah waktu, janganlah kau berjalan seperti biasanya, bantu aku memperlambat rasa, berputarlah sepelan mungkin, supaya gembalaanku kenyang dengan rerumputan gelora Kalau kau penuhi sebetulnya, telah ku pinang para awan dan cahaya siang dengan serbuk-serbuk dusta yang sepertinya menjanjikan Alhamdulillah, matahari tetap beputar seperti biasa, Tuhan selalu Maha Adil, bukan gembalaanku saja satu-satunya mahluk yang harus diperhatikan-Nya, tetapi semua dalam kendaliNya, Hingga batas tertentu, kesadaran menyelimuti semua persangkaan.