Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2012

Tuhan Maha Adil

Menggembalakan hati, bergumam dalam tantangan jemari kehampaan yang tadinya liar, menjadi riuh asha yang berkepanjangan Ayolah waktu, janganlah kau berjalan seperti biasanya, bantu aku memperlambat rasa, berputarlah sepelan mungkin, supaya gembalaanku kenyang dengan rerumputan gelora Kalau kau penuhi sebetulnya, telah ku pinang para awan dan cahaya siang dengan serbuk-serbuk dusta yang sepertinya menjanjikan Alhamdulillah, matahari tetap beputar seperti biasa, Tuhan selalu Maha Adil, bukan gembalaanku saja satu-satunya mahluk yang harus diperhatikan-Nya, tetapi semua dalam kendaliNya, Hingga batas tertentu, kesadaran menyelimuti semua persangkaan.

Kisah Rumput dan Kutilang

Senja meliuk damai di penghujung hari, mentari mulai mencoba manja dengan sinarnya yang lembut. Terbanglah burung kutilang nan cantik sedikit merajuk, menghunus amarah yang nampak lekat dari binar matanya. Seanggun kegelisahan ujung senja yang akan berganti malam, ia hampiri goyangan rerumputan yang pulas pada diamnya. “Hai, kau sudah tahu aku, aku paham sama kamu lho?” selorohnya cetus. Rumput itupun menyahut: “Iya, aku tahu, pasti kamu kutilang kan?”. Keakraban pun terjalinlah. Denyut persahabatan yang lazim dari keduanya berjalan sangat indah. Danau telaga yang mengawasi pun nampak tertegun iri melihat mereka. Laju waktu mencoba mengurung keduanya dalam canda dan coba. Aliran-aliran mimpi terus membayang dalam temaram perjalanan. Rumah takdir yang akan ditempatipun menjadi sisi gamang penuh keraguan, berjejal persoalan merakit tembok komitmen. Kutilang hanya menitip benih teman dan kehakikian, jangan sampai kedekatan itu berbuah tidak semestinya. Rumput yang terus berfikir me...

Bergairahlah, kawan....Ayo!

Gambar
Melongok kembali gairah, terus ku raba senyum untuk menghadirkan sedikit nilai dari gabungan rasa. Otak atik gelagat tawa yang tertimbun nuansa semilirnya aliran udara, hmmm...nampak nyaman walau sebentar. Halo ku sapa, kerut siang yang tak kunjung membuncah, tapi ku paksa juga agar ia segar bersama terik surya. Ayolah kawan bergairahlah menghela laju problema yang kian hari kian menumpuk indah, seindah nikmat Tuhan bagi yang pandai bersyukur, tak usahlah tersungkur di gerigi pesimis kehidupan karena kita hanya akan menjadi bahan gunjingan yang tak sedap. Terlampau singkat hanya memberi kesan suram bagi jalan kita, karena kasih sayang yang diberikan alam pada kita adalah ajaran alamiah yang patut direnungkan. Jangan sekali-kali menyumbatnya dengan ego kita yang tak sepatutnya. Plong kan kebersihan jiwa dalam anugerah, syair para burung itu menggelembungkan bahasa dinamika yang terus sempurna dalam mengiring damai proses ini, ayo alihkan isu genting yang mengakibatkan kiama...