Postingan

Di Gelaran Hijau Medini

Di gelaran hijau Medini, Pernah aku memapah sebelah sayap, dan bertamu Pernah aku tak membawa, sebilah kekuatan karena, demi kehormatan rasa Di pelataran sejukmu Medini, aku bernaung gembira Usil sana sini berdendang hati Tanpa sadar ditiupan senja, menganga gayuh keindahanmu, Medini, di lereng pertapaan, Ia mengajarkan kasih di tiap sudut tanpa tepian Bahasa damai di bungkusan lelah, Mengatur waktu sang pengelana lara Medini, hamparan gelut nyali, Nyali besar sang syukur pada PemilikNya Hingar bingar langkah sepasti canda, Karena malam siang tak pernah beda Selalu ada gema dilantik makna, Lembut lentik arus logatnya Yang tak tertawan ia yang lupa, Lupa akan Sang Pesona

Teguran Logika untuk Sang Rasa

Gambar
Diamuk dinginnya fajar, percakapan mengalun dalam gelutnya, rupanya Sang Logika sedang meramu sabda untuk Sang Rasa. Dalam irisan syairnya Sang Logika bertutur: "Satu sudut pandang saja cukup, kamu telah salah wahai raja bahana, ucapanmu meluluh lantahkan derma sejati Satu sudut pandang saja cukup, kamu telah keliru wahai periuk fatamorgana, tempatmu tidaklah seluas makna aslimu Satu sudut pandang saja cukup, kamu telah cela wahai graham gulita, gigitanmu beraroma remukan dada Satu sudut pandang saja cukup, kamu telah menipu wahai permata palsu, kilaumu hanyalah bualan konyol di keaslian sabda-sabda Satu sudut pandang saja cukup, kamu telah bersandiwara wahai satria tanpa pesona, ketampananmu bermuka masam dalam hiasan dusta Satu sudut pandang saja cukup, kamu telah terlihat wahai piningit kesiangan, ku kira wibawa ternyata jubah angkara Satu sudut pandang saja cukup, kamu tak cukup kuat wahai perahu retak, kau akan menahkodai ketimpangan yang tak ada ijin Satu sudut p...

Undangan awan.....

Gambar
Pada hari, ditengah syahdunya gurauan awan, terundang beburung dan lambaian hijau dedaunan tercabut akar rumput sementara. Bergumul dalam canda dewasa yang riuh sejuk dilibas tipisnya kekabut. Kepak kepak sayap beburung , tulus beralas angin sesepoi itu, tabir waspada dari masing-masing diri mengunci angkara. Kami harus bilang apa hai awan, ….. kau ajak tubuh kami kesini, kami saksikan senyum itu indah dibalik tebal tipis bajumu, kami harus berkata bagaimana kawan, telah kita tanjaki jalan setapak mungil berisi sunyi ini. “Syairkan humor hatimu melalui pandanganmu, di tepi-tepi jurang menganga yang syarat makna, di kepak-kepak bulu sayap kalian yang mempesona, di temari daun-daun yang rindang riang, nyatakan kesungguhan untuk berdiam, membasuh kering hati, menelurkan bunga-bunga bermakna sholehah, yang bertahta diatas bukit berbunga cinta.” Lillahi Ta’ala, lizdzdikri, lil’ibadah, Amiin. Kalimat awan mengunci, mematri dan menjadi cermin.

Tuhan Maha Adil

Menggembalakan hati, bergumam dalam tantangan jemari kehampaan yang tadinya liar, menjadi riuh asha yang berkepanjangan Ayolah waktu, janganlah kau berjalan seperti biasanya, bantu aku memperlambat rasa, berputarlah sepelan mungkin, supaya gembalaanku kenyang dengan rerumputan gelora Kalau kau penuhi sebetulnya, telah ku pinang para awan dan cahaya siang dengan serbuk-serbuk dusta yang sepertinya menjanjikan Alhamdulillah, matahari tetap beputar seperti biasa, Tuhan selalu Maha Adil, bukan gembalaanku saja satu-satunya mahluk yang harus diperhatikan-Nya, tetapi semua dalam kendaliNya, Hingga batas tertentu, kesadaran menyelimuti semua persangkaan.

Kisah Rumput dan Kutilang

Senja meliuk damai di penghujung hari, mentari mulai mencoba manja dengan sinarnya yang lembut. Terbanglah burung kutilang nan cantik sedikit merajuk, menghunus amarah yang nampak lekat dari binar matanya. Seanggun kegelisahan ujung senja yang akan berganti malam, ia hampiri goyangan rerumputan yang pulas pada diamnya. “Hai, kau sudah tahu aku, aku paham sama kamu lho?” selorohnya cetus. Rumput itupun menyahut: “Iya, aku tahu, pasti kamu kutilang kan?”. Keakraban pun terjalinlah. Denyut persahabatan yang lazim dari keduanya berjalan sangat indah. Danau telaga yang mengawasi pun nampak tertegun iri melihat mereka. Laju waktu mencoba mengurung keduanya dalam canda dan coba. Aliran-aliran mimpi terus membayang dalam temaram perjalanan. Rumah takdir yang akan ditempatipun menjadi sisi gamang penuh keraguan, berjejal persoalan merakit tembok komitmen. Kutilang hanya menitip benih teman dan kehakikian, jangan sampai kedekatan itu berbuah tidak semestinya. Rumput yang terus berfikir me...

Bergairahlah, kawan....Ayo!

Gambar
Melongok kembali gairah, terus ku raba senyum untuk menghadirkan sedikit nilai dari gabungan rasa. Otak atik gelagat tawa yang tertimbun nuansa semilirnya aliran udara, hmmm...nampak nyaman walau sebentar. Halo ku sapa, kerut siang yang tak kunjung membuncah, tapi ku paksa juga agar ia segar bersama terik surya. Ayolah kawan bergairahlah menghela laju problema yang kian hari kian menumpuk indah, seindah nikmat Tuhan bagi yang pandai bersyukur, tak usahlah tersungkur di gerigi pesimis kehidupan karena kita hanya akan menjadi bahan gunjingan yang tak sedap. Terlampau singkat hanya memberi kesan suram bagi jalan kita, karena kasih sayang yang diberikan alam pada kita adalah ajaran alamiah yang patut direnungkan. Jangan sekali-kali menyumbatnya dengan ego kita yang tak sepatutnya. Plong kan kebersihan jiwa dalam anugerah, syair para burung itu menggelembungkan bahasa dinamika yang terus sempurna dalam mengiring damai proses ini, ayo alihkan isu genting yang mengakibatkan kiama...

Suara sebagai Nikmat

Alkisah, dalam kegersangan malam nan rajut, seraut wajah kusam meramu lamunan. Hingar Idul Fitri yang terpatri memaksa lingkup jasmaninya bergembira. Batangan harapan disapa dengan sedikit kantuk, sedikit respek, pula sedikit senyum. Tabuh malam memang belum larut, khayalnya masih tajam, melambung lepas hingga tepian cahaya angkasa. Denyut kampung yang tak ramai memberi kekhusyukan bingkai hati tanpa kalimat. Ulasannya hanya sederhana, sedikit tanya saja: "dimana kegembiraan setelah lepas Ramadhan? dimana kebahagiaan tradisi Lebaran?" Hal aneh yang hanya membuat orang semakin bingung, dirasa tak perlu seriuslah menjawab. Karena pada akhirnya ia tatap kerlip bintang itu penuh kekaguman, banyak sekali ayat-ayat Tuhan memberikan sinyal tasbihNya, termasuk gemintang yang senantiasa berikrar pada kesetiaan tasbih mereka pada Rabbnya. Hingga keindahan lamunan yang terus seru itu, berujung mauidhah seorang Ustadz: "....suara yang kita keluarkan tak akan hilang, karena...