Postingan

Mari Renungkan

Gambar
Usia 30, peringatan itu bertambah keras. Usia 40 lebih keras lagi. Puncaknya adalah 60 tahun. Saudaraku, Tak seorangpun tahu bagaimana dan kapan tempo hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tidak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal shalih sebagai tabungan di hari akhir. Seorang Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, sahabat dekat Rasulullah saw pun pernah menangis saat menderita suatu penyakit, di detik-detik akhir hayatnya. “Aku menangis karena aku justru menderita sakit, pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat.” Karena itu Umar bin Khattab radiallahu anhu mengatakan, “Hasibu anfusakum qobla antuhasabu” , berhitunglah kepada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir. “Kafaa bi syaibi wa’izan” , cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan, begitu filosofi para salafushalih untuk mengingatkan dekatnya waktu “panggilan” Allah swt. Saudaraku, Inilah dering peringatan hati...

Menikmati Asyiknya Permainan Tempo Dulu

Gambar
PULUHAN siswa SDN Bedono 01 Kecamatan Sayung, Demak, terlihat riang gembira. Terik matahari yang menyengat tak terasa oleh asyiknya bermain ular-ularan, go back to door (gobak so dor), dan lainnya. Keasyikan mereka semakin terasa, karena sejumlah peserta adalah orang asing yang sudah dewasa. Ya, sejumlah warga Jepang yang tergabung dalam Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement (OISCA) sengaja melibatkan anak-anak dalam program mereka. Selama ini OISCA melakukan program penghijauan pantai. Bukan hanya itu, mereka juga membantu pembangunan gedung SDN Bedono I yang telah terandam air rob dan membangun Puskesmas Bedono. Setiap melakukan penghijauan pantai, LSM yang peduli lingkungan itu, senantiasa melibatkan anak-anak. Untuk mencairkan suasana, mereka biasanya mengisi dengan permaian. Meski sebagian sudah berusia 35 tahun ke atas, mereka tak canggung bermain layaknya anak-anak. Dalam gobak so dor misalnya, mereka berbaur dalam satu tim dengan anak-anak. ’’Tenaga ana...

Diplomat Minang Berlidah Pedang

Gambar
D i panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota rapat, tersenyum. “Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya. Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!” “Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi. “Kucing!” “Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium. Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik podium. Dia tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya, berdehem, dan bertanya, “Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak berkumis dan berjanggut?” Koor jawaban pun bergema. “Anjing!” Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya, menjelaskan agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi Belanda. Lelaki berjanggut dan berkumis panjang itu adalah Haji Agus Salim, pentolan Sarekat Islam. Sejak awal, dia memang agak berbeda sikap dengan Muso. Tapi, Agus Salim selalu ...

Bercermin Ramadhan

Gambar
P ergimu tak pernah aku kehendaki, tetapi kehendak Allah 'Azza wa Jalla yang menyelaraskan aturan waktu dari ramadhan ke bulan syawal. Kembali diperbolehkan berbuka atau kembali kepada rutinitas biasa, tanpa di haramkan makan minum pada siang hari itulah 'idul fitri, menunaikan membayar zakat fitrah saling bersilaturrahim pada saudara, tetangga, teman, dan kerabat jauh itulah suasana bulan syawal di negara kita. Bayangan ramadhan bagi kaum alim, akan selalu melekat pada hari2 selepasnya, meningkatkan ibadah, meningkatkan kebajikan dan selalu menjaga diri, menahan diri dari keburukan hidupnya, namun akan sangat ironis bagi kaum awam, makna berlalunya ramadhan banyak yang menandai dengan sesuatu yang tiada manfaatnya bahkan lebih condong kepada kemudharatan. Sesuatu itu dapat berupa membuat dan membunyikan petasan dengan beaya besar yang penuh dengan resiko terkena ledakannya sementara banyak sekali saudara kita yang kurang mampu memikirkan apa yang harus dimakan esok pagi, karen...

Cermin Kepedulian Berbangsa

Gambar
P erbedaan bukan berarti tak bisa saling untuk berbagai. Vihara Buddhagaya Watu Gong Semarang kemarin membagikan bingkisan Lebaran kepada sekitar 720 warga kurang mampu di sekitar lokasi atau wilayah Kecamatan Banyumanik. Pembagian bingkisan yang berisi 10 jenis kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng dan mi instan ini berlangsung tertib. Mulai dari pintu masuk, warga yang akan menerima bingkisan sudah di seleksi, yakni yang memiliki kupon. Kupon tersebut sebelumnya sudah dibagikan oleh pengurus pemerintahan setempat. Selain itu, penerima kupon adalah yang benar-benar membutuhkan dan kondisi ekonominya memang kurang mampu. ’’Saya berharap semuanya sabar, jangan tergesa-gesa, semua pasti dapat bagian,’’ ungkap ketua Yayasan Vihara Buddhagaya Watu Gong, Halim Wijaya, di aula serba guna tempat ibadah tersebut dengan pengeras suara. Masyarakat yang antre pun mematuhi dan dipanggil sesuai nomor urut. Lantaran tertib, tak lebih dari satu jam bingkisan ludes dibagi. Menurut Halim, kegiat...

Hidupkan Nurani Kita

A ku, kamu, dia, yang bagus pakaiannya, yang compang-camping pakaiannya, yang bagus rupa parasnya, yang jelek dan buruk tampangnya, selama menetap di bumi Allah di Indonesia tercinta ini adalah rakyat Indonesia. Yang punya jabatan ataupun tidak, yang punya harta berlimpah atau tidak, yang punya keturunan ningrat atau tidak, semua adalah rakyat yang punya hak dan kewajiban sama sebagai warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Dengan memiliki hati nurani, yang sesungguhnya telah otomatis dibekalkan oleh Tuhan kepada kita, maka jauhkanlah hal-hal yang hanya akan menimbulkan emosi sosial dalam persaudaraan kita ini. Anda yang berkuasa dan kaya janganlah pamer harta benda dengan terus menerus melintas di jalanan si miskin tanpa mau beramal kepada mereka. Begitu juga anda yang kurang mampu haruslah terus berusaha mengejar harapan dan cita2 supaya tidak selalu tertinggal dengan yang lain, manfaatkanlah apa yang telah Allah berikan kepada kita dengan sebaik-baiknya, jangan hanya berani me...

Upaya Menutup Keserakahan Jiwa

D alam kita kenang sesuatu yang begitu berarti dalam hidup kita, waktu yang terus menerus bergulir akhirnya akan membawa kita kepada tempat yang sangat pantas buat kita dengan bergantung atas apa yang kita lakukan sepanjang hayat kita. Selagi kita masih berdiam di bumi Allah ini kita tidak usah heran seribu gelengan, mengapa yang sudah cukup kondisi kehidupannya, begitu bertambah cukup sehingga disebut sebagai orang2 kaya, dan yang sudah susah makin bertambah payah sehingga bagi yang punya empati akan bilang sangat mengenaskan. Beginilah alur kehidupan yang semu, beginilah kefanaan dunia, dan beginilah mata lahir bisa melihat. Tetapi tidak akan berefek bagi insan2 yang penuh gelimang rahmat, tiada peduli dalam keadaan apapun dia berada, baik cukup, enak, sengsara, kaya, sehat, sakit, miskin, dan lain sebagainya dia tetap tegar dengan genggaman iman dalam kalbunya sebagai penuntun dan cahaya hidupnya. Jalan kehidupan sangatlah panjang, tidak terbatas hanya dunia saja, namun akan lebih m...